15 Oct
10:05

Alatas maka rekognisi sendiri – Mandala Baru

Artikel ini didasarkan atas bersinar-sinar bertitel “Alatas maka Pengetahuan Otonom” yg mau dipresentasikan dalam ANU Malaysia Institute Seri Seminar 2021 atas Kamis, 30 September 2021 – 16:00 ke 17:10 (AEST). Anda mampu mengindeks akan menyertai sidang bersinar-sinar melangkahi pagina agenda.

pembawa

Periode pendirian paham Syed Hussein Alatas sama dengan kurun penjajahan Eropa, khususnya dalam Malaya Inggris maka Hindia Belanda. Saat sebagai mahasiswa pasca intelektual dalam Universitas Amsterdam, sira menoreh segalanya yg nyata mewujudkan pekerjaan pertamanya mengenai persoalan penjajahan (“Some Fundamental Problems of Colonialism”, Dunia Timur, 1956). Di sini, sira memilah persoalan yg diciptakan sama penjajahan ke paham tiga grup. Pertama, persoalan jasad maka material, misalnya persawahan, kontak, maka perumahan. Yang kedua sama dengan persoalan lembaga, yg mengikat masalah-masalah sepantun pertautan perniagaan maka industrialisasi, tadbir ketatanegaraan maka kursus, kesentosaan kemasyarakatan, maka sebagainya. Ketiga, persoalan sosiologis, mental, maka kelakuan yg ditimbulkan sama penjajahan. Alatas beriman bahwa dalam sinilah penjajahan mengakibatkan kebobrokan terbesar, maka dalam sinilah penyudahan persoalan mula-mula maka kedua bencat. Bahkan lewat, Alatas besar menggarisbawahi tabiat elit paham pendirian, mentranskripsikan bahwa elit pasak kunci yg dibina atas tempo kolonial enggak mempunyai bentuk paham yg integral sama gemulai, gara-gara enggak bakir mensintesis aset pikiran maka paham Barat mereka. Dalam pustaka Dunia Timurnya, Alatas jua mentranskripsikan melalui permulaan sendiri dalam percaturan elit.

Perasaan permulaan sendiri yg tersirat paham perbuatan mereka absolut terus-menerus disebabkan sama situasi babad maka kemasyarakatan yg makin global, gara-gara diakui bahwa kalau se- desa didominasi sama desa parak akan jangka yg memadai tempo, seserpih populasi merasa bahwa kelianan mereka tertanam. paham pengaruh sebangun mereka, maka mengibaratkan bahwa yg menguasai demi gara-gara eminensi maka kapasitas mereka. Untuk memupuskan perasaan ketidaksetaraan ini, mereka menyambut pengaruh membeo. Klasifikasi kubu ini enggak didasarkan atas draf ketatanegaraan. Mereka mampu ditemukan dalam rumpang mereka yg toleran alias reaksioner, yg mengangkat alias menatap kebebasan serta merta, kategori perniagaan semampai maka permulaan, kepala maka anak publik.

Belakangan Alatas memindahkan perhatiannya atas takaran perniagaan ketatanegaraan penjajahan. Hakikat populasi kolonial dipahami paham tulangbelulang draf kapitalisme kolonial, sebuah ide yg dibahas paham pekerjaan demistifikasi maka dekonstruksinya, Mitos Penduduk Asli yg Malas, diterbitkan atas tarikh 1977. Dalam pekerjaan ini, atensi mengenai elit tempatan plagiator yg menginternalisasi aspek-aspek definit berawal filsafat kolonial digabungkan sama takaran perniagaan ketatanegaraan kapitalisme kolonial. Beberapa ide Eropa mengenai anak negeri berproses demi sisi pengolah filsafat kolonial akan mengulurkan keperluan kapitalisme kolonial. Di bagi segalanya, Alatas merana sama tabiat maka kebobrokan pelukisan kolonial mengenai penunggu sungguh-sungguh maka dengan jalan apa gambar-gambar ini diinternalisasi maka dipercaya.

Alatas sama dengan corak intelektual dekolonial yg jebrol atas tempo kolonial maka menghadapi kebebasan ketatanegaraan. Dia membelokkan maklum akan nya Mitos Penduduk Asli yg Malas, yg kelihatan atas tarikh 1977, lamun sebelumnya menoreh penilaian mengenai filsafat maka pengamalan kolonial paham watak pemeringkatan reaktif mengenai filosofi maka perbuatan ketatanegaraan peletak kolonial Singapura, Thomas Stamford Raffles (Thomas Stamford Raffles: Schemer alias Reformator, 1971). Konsekuensi pragmatis berawal kritiknya mengenai rekognisi kolonial maka keuletan Eurosentrisme paham perakitan rekognisi dalam jagat pasca-kolonial sama dengan seruan akan rekognisi sendiri.

Sekolah Pengetahuan Otonom

Pada tarikh 1979, Alatas sudah menoreh mengenai perlunya institusi lingkungan kemasyarakatan yg sendiri dalam Asia, yg sira maksudkan sama “menyangkutpautkan penyelidikan maka paham lingkungan kemasyarakatan sama masalah-masalah Asia selaku terpilih” (“Menuju Tradisi Ilmu Sosial Asia”, Quest Baru 17, 1979). Ini mau membutuhkan rekognisi “ukuran pemahaman yg unik berawal rayon tercatat”. Ia enggak bercita-cita sekadar mengikuti isu-isu tempatan sama kaidah yg timbul. Dalam “Pengembangan Tradisi Ilmu Sosial Otonom dalam Asia: Masalah maka Prospek” sira berdebat ciri-ciri institusi sendiri: (1) rekognisi maka penuntasan masalah-masalah definit; (2) pengamalan kaidah definit; (3) pemahaman sinyal definit; (4) penjadian draf kontemporer; maka (5) kaitannya sama cabang-cabang lingkungan lainnya.

Di wadah parak, Alatas menerangkan bahwa institusi sendiri sekadar mau kelihatan kalau terkandung kesadaran mau hajat akan sunyi berawal kekuasaan institusi cendekiawan eksternal yg hegemonik sepantun yg dimiliki sama kapasitas kolonial sebelumnya. Alatas mempunyai nyawa yg bergairah. Dia menyetujui konstituen bergairah paham lingkungan rekognisi, yg menurutnya enggak memadai berbunga dalam Asia. Dia beriman atas karakter percekcokan berawal ilmu-ilmu kemasyarakatan, akan menatap kolonialisme maka hemat yg terjebak, maka akan merevisi yg tertular maka haram.

Sekitar heksa era yg arkian, Ibnu Khaldun mendeteksi lingkungan kontemporer yg disebutnya lingkungan populasi makhluk (science of human society).ilm al-ijtima al-insani). Tentang ini beliau bercerita:

Mungkin segenap intelektual lewat, dibantu sama anugerah ilahi berawal hemat yg waras maka darma siswa yg kuat, mau mendobrak persoalan ini selaku makin rinci dari yg kita lakukan dalam sini. Seseorang yg menciptakan jurusan kontemporer enggak mempunyai darma akan memikirkan sarwa persoalan orang yg tergantung dengannya. Tugasnya sama dengan akan menetapkan poin jurusan maka bermacam ragam cabangnya maka pembahasan yg berangkaian dengannya. Penggantinya, lewat, selaku bertingkat mampu mencampur makin tumpat persoalan, mencapai jurusan sangat disajikan (Muqaddimah, mabuk. Franz Rosenthal, London: Routledge maka Kegan Paul, 1958, vol. 3, keadaan. 481).

Alatas mengambil sisi ini berawal Ibn Khaldun, lewat menyinambungkan sama tuntutan ini:

Bolehkah patik mengantarkan dalam sini, surat berawal Ibn Khaldun pada Asosiasi Sosiologi Internasional, bahwa paham Kongres Sosiologi Dunia yg mau sampai, sebuah bagian mengenai institusi ilmu masyarakat sendiri mau dibuat? Ini mau menasihati getah perca ahli sosiologi dalam sarwa jagat akan menggabungkan atensi mereka atas hajat yg besar radikal ini akan peningkatan ilmu masyarakat (“The Autonomous, the Universal and the Future of Sociology”).

Sementara ini mewujudkan seruan penggal ahli sosiologi akan berputar dalam sejauh pias rekognisi sendiri, Alatas mufrad sudah menciptakan institusi sebangun itu yg dimulai dalam ilmu Studi Melayu. Departemen Studi Melayu dalam National University of Singapore mempunyai institusi menciptakan surat pilihan akan Orientalisme maka Eurosentrisme. Departemen ini didirikan sama Alatas atas tarikh 1967 maka dipimpin olehnya sewaktu hampir-hampir duet dasawarsa. Selama kurun itu, ancangan unik paham ilmu masyarakat maka ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya kelihatan maka mempengaruhi tumpat mahasiswa yg dilatihnya yg lewat bersekutu sama divisi demi penatar. Kajian Melayu, demi ilmu studi yg analitis paham ilmu-ilmu kemasyarakatan, dikembangkan sama ancangan yg unik maka sah sama Alatas.

Pendekatan itu kelihatan, pertama-tama, paham tulisannya. Contohnya terlingkungi penyelidikan historis maka sosiologis mengenai filsafat kolonial sama sari atas pandangan ketatanegaraan Raffles maka keyakinan keengganan Melayu, Jawa maka Filipina, kritiknya mengenai kolonialisme cendekiawan.

Beberapa cekel Alatas menoreh pasrah institusi lingkungan kemasyarakatan yg sendiri. Kajian olak Shaharuddin Maaruf mengenai draf perwira paham institusi Melayu, mencari ilmu kritisnya mengenai gagasan-gagasan pendirian Melayu, dalam mana sira meneroka tabiat ideologis konsepsi keilmuan pancuran transenden mengenai gagasan-gagasan toleran, maka teori-teorinya yg bugar mengenai institusi maka renovasi paham budi Melayu. jagat sama dengan segenap contohnya. Karya reaktif Sharifah Maznah Syed Omar yg mengamati karakter keyakinan paham membela keperluan elit konservatif sama dengan keadaan parak. Seorang intelektual Studi Melayu berawal tingkatan ketiga, Azhar Ibrahim Alwee, sudah menganugerahkan tumpat sumbangan mengenai penilaian Orientalisme paham mencari ilmu jagat Melayu. Azhar sama awas melukiskan ciri-ciri transenden Orientalisme sepantun yg ditemukan paham mencari ilmu kesusastraan, babad, maka populasi Melayu. Sarjana parak berawal Studi Melayu dalam Singapura, Tham Seong Chee, menoreh mengenai persoalan migrasi cendekiawan.

Jawi: jati diri maka silang pendapat

Kehebohan bagi segenap pagina yg kemungkinan enggak bergolak paham sebuah surat kabar pustaka menganugerahkan faal lebih-lebih terpolarisasinya populasi Malaysia.


Pendekatan ini, yg didirikan dalam Departemen Studi Melayu atas tarikh 1967 dalam Universitas Singapura jam itu, maka yg mampu dikatakan dekolonial, dipengaruhi sama Alatas, maka menginformasikan tulisan-tulisan getah perca intelektual tingkatan mula-mula maka kedua setelahnya. Ambil corak, Noor Aisha Abdul Rahman, mahasiswa Alatas maka bekas Ketua Jurusan Studi Melayu. Dia berfungsi dalam ilmu tadbir tata cara Islam maka jua mempunyai kehendak yg makin lebar paham arah anutan Melayu. Dalam pendekatannya terkandung perhatian mengenai angan-angan kolonial paham ilmu tata cara, anutan, pikiran melayu maka sebagainya. Di asing ini, terkandung kesaksian mau perturutan rumpang kurun kolonial maka pascakolonial, dalam mana sudut pandang kolonial definit mengenai Melayu diinternalisasi sama wong Melayu mufrad, maka berkukuh batas kurun sehabis kebebasan. Yang jua unik berawal ancangan Studi Melayu sama dengan tempat bahwa lain sekadar penjajahan yg bertindak paham struktur arah regresif wong Melayu, lamun jua kategori pasak kunci Melayu, yg enggak sekadar menginternalisasi arah tercatat lamun jua diuntungkan sama kapitalisme kolonial maka berpartai. mengenai penindasan wong Melayu. Lebih berumur diakui bahwa paham berkuasa mengenai wong Melayu maka persoalan mereka condong kulturalis, sama pengepresan terlalu atas karakter maka terkaman Islam yg esensialis maka ahistoris.

John Nery, juru warta Filipina, menyatakan atas “institusi Alatas”, adalah “pias dinasti rumpun piawai elit Malaysia yg dimulai sama pemula yg menjulang semampai, almarhumah Syed Hussein Alatas….”

Meskipun Alatas mufrad enggak bersuara mengenai revolusi paham, ide-idenya mengenai institusi lingkungan kemasyarakatan yg sendiri sudah mempengaruhi getah perca intelektual sewaktu duet tingkatan, maka sebuah revolusi mampu dikatakan sudah kelihatan. Ulama maka novelis Indonesia, Malaysia maka Singapura terlingkungi, selain ustaz yg disebutkan dalam bagi, Chandra Muzaffar, Wan Zawawi Ibrahim, Norshahril Saat, Teo Lee Ken, Mohamed Imran Mohamed Taib, Pradana Boy Zulian maka Okky Puspa Madasari, Sharifah Munirah Alatas , Masturah Alatas maka patik mufrad sama dengan sisi berawal institusi lingkungan kemasyarakatan sendiri dalam bermacam ragam ilmu kita maka mampu dikatakan menyulih Sekolah Pengetahuan Otonom. Cendekiawan lembut tingkatan ketiga dalam jagat Melayu menginvestasikan institusi reaktif ini ke paham keilmuan mereka jam mereka mengasaskan makalah maka desain lainnya. Aliran Pengetahuan Otonom prospek mewujudkan semata wayang revolusi paham paham ilmu-ilmu makhluk yg kelihatan dalam jagat Melayu.

« »