28 Sep
8:47

Cara asing menurut mengenali – Mandala Baru

Artikel ini didasarkan ala bersinar-sinar berjudul “Cara Mengingat Lainnya yg mau dipresentasikan pada ANU Malaysia Institute Seri Seminar 2021 ala Kamis, 30 September 2021 – 16:00 ke 17:10 (AEST). Anda kuasa menginventarisasi menurut mengikuti ceramah bersinar-sinar melintasi jerambah lagak.

Jika homo- interpretasi akal budi dibagikan dengan kesadaran kuasa dipelajari, ditransmisikan trayek turunan berarti mimbar dengan termin, dan sampai-sampai album nyata selaku atensi ulung alokasi getah perca etnografer. Tapi terdapat pertanyaan berarti “menggerebek” album. Apa yg dikatakan jiwa yg mereka terkenang akan peri ataupun penggalan definit berlawanan semenjak segala sesuatu yg sepatutnya mereka terkenang. Yang perdana yakni penceritaan ataupun metanarasi mereka, semisal Anda kasik, yg merembet representasi berarti patois dengan “lain cuma” terwalak pada berarti [social] operasi, itu dibentuk dengan dimodifikasi olehnya ke susun yg substansial” (menukil Maurice Bloch). Yang bungsu, impresi mereka, boleh jadi tiada merembet patois klop semuanya. Selain itu, aku bersamaan melalui implementasi eksklusivitas yg solid, ketatanegaraan mengancaikan. Seperti yg dikatakan antropolog Geoffrey White: “kegiatan representasi pula mencorakkan kegiatan mistifikasi, pembungkaman, dengan pembuangan.”

Dalam mengenali tempo arkian, selaku eklektik, seluruh perspektif mau terpinggirkan. Marginalisasi pula tiada cuma ala sapa yg mengenali ataupun segala sesuatu yg diingat, walakin pula mengatup implementasi album mereka. Pengetahuan yg disponsori negeri—serupa yg dikomunikasikan melintasi kurikulum maktab—mengarah unik, dipaksakan, dengan acap dialami serupa itu. Persoalannya, usaha bekerja formal mengarah kaku, tambahan pula hegemonik. Dalam modus operandi produksi album yg berpengaruh, impresi disaring melintasi kata-kata yg dicetak, ibadat karakter, implementasi pitawat, monumentalisme, dengan sejenisnya.

Gambar 1. Idiom domestik peguyuban acap diabaikan berarti kisah kebangsaan. Seorang arek Batek memohon pamannya menurut menjemputnya, 2020. [Photo by Lye Tuck-Po]

Ketika beradu kening melalui umum pra-melek abjad, jiwa boleh jadi tiada seperti itu terjerat ala turunan dengan aset. Namun, itu tiada berjasa kurangnya kesadaran kisah; itu cuma dipahami dengan diungkapkan selaku berlawanan. Saya merekomendasikan perlunya memerhatikan cara-cara opsi mengenali. Saya kepingin berdiskusi kerangka sosial-spasial yg mengizinkan produksi album—dunia jasmani, ataupun vista pada mana album sebangun itu dipupuk.

Settingnya yakni Kampoeng Chheuteul, sebuah dukuh persawahan pada bibir Sungai Stueng Saen, yg mengerubungi kelompok candi Sambor Prey Kuk, Kamboja. Pertama serokan kawula memerhatikan Danau Chi-kay yakni pada permulaan permintaan medan kawula, medio Oktober 2005. Tampaknya terdapat kobakan tirta muluk yg terwalak pada renggangan dukuh dengan kelompok candi. Pengetahuan yg diterima yakni bahwa tengara Chi-Kay mengingat asal-usulnya: kay berjasa “mencebak” dengan membelanjakan merujuk ala “jiwa lanjut usia” ataupun “kakek moyang”. Dengan kecek asing, warga negara dukuh berkeyakinan bahwa tasik itu disebabkan sama penambangan bentala menurut kerikil bata candi.

Baru ala candra Februari kawula hasilnya mencium sekalian sarira tirta yg dibahas sebelumnya dengan kuasa menaruh fitur-fitur ini pada atlas. Pada kali itu, kesadaran kawula akan vista terkira kesadaran akan kukuh: posisi. ta: (lit. jiwa lanjut usia) galibnya diterjemahkan selaku orang halus dukuh. Altar menurut menyembah roh-roh ini ditemukan pada sarwa Kamboja. Di Danau Chi-kay, situs-situs ini sudah didokumentasikan sama getah perca arkeolog selaku pusaka zaman kuno. Shimoda Ichita (kali itu semenjak Universitas Waseda, Jepang) mentraktir kawula atlas arkeologi berlandaskan cetakan hawa warsa 1992 (berarti duplikat kolegialitas yg bahari). Saya mencium atlas selaku perigi kebisaan yg mustahak penting lantaran mengagih pendapat alat penglihat titit yg terbaik akan relasi spasial. Namun, selaku atlas arkeologis, atlas ini mengimbuhkan kesadaran eksternal ke vista warga negara dukuh. Sebagai seorang antropolog, kawula mencium atlas itu terbatas spesifikasi akal budi.

Saya menggambarkan sekalian ini menurut mendemonstrasikan macam mana vista selaku kuasa dibaca sama jiwa asing. Itu dibuat melintasi implementasi: bertani pada sesapan, warga negara dukuh mencium kerikil bata dengan bekas pengabuan; beribadah untuk kakek moyang, mereka selaku ingat mau takrif akal budi; menghimpunkan kusen menyiar, mereka terkenang sejarah rapat orang halus. Seperti vista dibuat melintasi sasana, serupa itu pula album. Masa arkian terdapat pada sekeliling, walakin tiada sekalian jiwa menyadarinya, ataupun becus menguraikannya. Kisah-kisah ini kuasa dibagikan sama jala-jala jiwa, walakin cuma warga negara paser berjarak yg kuasa menerangkan ilmu permukaan bumi kemasyarakatan yg bertambah besar.

Bagaimana melalui tempat-tempat serupa yg dirasakan? Peristiwa membelakangi runut, walakin berarti keadaan ini runut bertabiat material dengan indrawi. Saya menyapa logo ini “tanda”. Untuk ini, kita berganti ke pemburu-pengumpul Batek dengan Penan semenjak Malaysia. (Batek yakni Orang Asli, Penan lain. Batek bermukim pada Semenanjung; Penan pada Sarawak.)

Gambar 2. Lanskap dibuat melintasi sasana. Seorang perjaka Batek menaiki tumbuhan buah-buahan, 2014. [Photo by Lye Tuck-Po]

Sinyal yakni pengingat semenjak segala sesuatu yg sudah bertolak. Jejak penongkat, aroma, dengan bunyi kukuh terdapat, sehingga lantas mengunjukkan presensi datang logo menggabak. Baik Batek maupun Penan (Timur dengan Barat) komprehensif goyah sama jejak-jejak ini, terpenting berarti masalah kepergian. Kedua faksi mendahulukan ala indeks okuler. Batek memaklumkan mereka tiada kebal memerhatikan bekas pada mana jiwa yg dicintai berlalu; emcok bermusyawarah akan perasaan mereka tempo memerhatikan bekas seorang arek yg berlalu “memintas dengan main-main;” Penan Barat memaklumkan untuk etnografer Peter Brosius bahwa “memerhatikan” YANG LAIN [traces] seseorang yg sudah berlalu menghasilkan mereka banyak kesakitan.” Bagi Penan dengan Batek, responsnya menjauh, menurut pergi memerhatikan runut jiwa yg dicintai. Bagi Batek, kepergian galibnya diikuti melalui keberangkatan kunjung semenjak bekas kepergian—balik cuma sesudah berbulan-bulan dengan boleh jadi tiada semasa bertahun-tahun.

Penan dengan Batek pula mengupas perasaan mereka: tawai menurut Penan, haʔip menurut Batek. Ini kuasa selaku agresif dipoles selaku perasaan yg tercantel melalui nostalgia. telah kawula jelaskan haʔip selaku “perasaan kerinduan yg tidak terlukiskan menurut zat ataupun seseorang yg tiada terdapat.” Bagi Penan, serupa yg dikatakan antropolog muluk Jayl Langub: “Tawa yakni pernyataan menemui nestapa, kesenangan dengan kerinduan mau pengamatan jagat…Tawa menambat faksi dengan manusia ke vista.” Haʔip becus memedihkan tapi tawai (berlandaskan rembuk 2015 melalui Penan Timur) nyatanya mencorakkan perasaan yg selengkapnya konklusif bahwa mereka menaksir dengan jeri putus. Tampak nyata bahwa vista, album, dengan emosi tercantel tunak.

Gambar 3. Pao Tului (ketiga semenjak kidal), Penghulu (majikan) Penan Barat kali itu, beraksi serempak kerabatnya pada kedudukan Bendungan Murum. Di konteks yakni indeks vista Batu Tao dengan Batu Tungun. Bendungan itu sesudah (2008) berarti penggarapan. Enam masyarakat mengungsi reaksi benteng. [Photo by Lye Tuck-Po]

Sinyal meminda temperamen satu bekas—melalui serupa itu berkepanjangan dikaitkan melalui segala sesuatu yg berjalan pada senun, sapa yg sama dengan tetap pada senun, cerapan yg diberikan sama vista dengan biota-nya, dengan emosi yg tercantel melalui peri biografis. Tempat itu selaku bangunan, pada mana jiwa merasa mengantongi dengan kesentosaan. Secara bersama-sama, ini membubuhi cap kisah bekas itu, menjadikannya bertambah semenjak semata-mata bekas perkemahan ataupun pemukiman. Sebaliknya, kawula sarankan, mereka menciptakan kesanggupan dengan kepemilikan, sehingga merealisasi bekas itu kuasa diketahui dengan karenanya kuasa dikembalikan.

Lanskap mencorakkan kaukus bulat semenjak operasi kemasyarakatan dengan akal budi, walakin operasi sosiallah yg mentraktir temperamen vista, dengan melintasi operasi kemasyarakatan impresi akal budi kuasa diungkap. Pembicaraan sehari-hari selaku perigi kisah: sapa yg berlabuh, sapa yg bermukim, dengan sapa yg bertolak. Bagi umum domestik, usaha mereka mengenali—implementasi mereka yg merealisasi vista selaku bangunan—cuma mau mengerutkan atensi semisal dianggap (sama jiwa asing) menggalaukan, misalnya semisal merembet permulaan wana ataupun penjeratan fauna yg rawan langis. Hingga kali ini, tindakan melalui perut mnemonik yg semampai, serupa investasi balik ketela ganas pada Batek, sepenggal muluk cuma didokumentasikan sama getah perca antropolog.

Kematian pada senter kelambir sawit: Krisis kebugaran Batek Orang Asli Malaysia

Shock masyarakat wajar disalurkan ke tujuan pemberdayaan umum gaya hidup selaku jelas.


Saat mengupas pidato dunia Batek, kawula dikejutkan sama buatan seringnya kecek “mengenali”, itu, menyembul. Misalnya, “Kami terkenang jiwa lanjut usia. Pemakaman mereka terdapat pada sini, pada sinilah kita mengenali strategi. Tempat ini yakni aset kita.” itu yakni kecek utang semenjak patois Melayu. Menggunakan kata-kata utang galibnya mengunjukkan bahwa seluruh pergeseran kisah sudah berjalan, berarti keadaan ini, pergeseran semenjak mengenali selaku operasi psikologis (yg kata-kata sah tersuguh) menurut, boleh jadi, mengenali selaku ketatanegaraan. (Daftar terma daftar kata Batek tersuguh pada sini.)

Apakah umum domestik—pemburu-pengumpul, pembajak, dengan lain-lain yg “punah” semenjak ulasan kisah—mengenali keadaan yg klop? Dalam membungkukkan impresi ke atlas, aku (lantaran kawula pula terbabit pada sini) meminda kesadaran melalui kegiatan pengumpulan.

Di renggangan Penan dengan komprehensif umum gaya hidup lainnya, kartografi domestik, yg tadinya ditransmisikan selaku lidah dengan melintasi implementasi jasad, kini dibuat pada kepada daluang, menurut mencetak permintaan bentala mereka kuasa dibaca sama negeri. Ini boleh jadi harus dengan tambahan pula elementer, walakin ini berkontribusi ala marginalisasi usaha mengenali domestik mereka. Kenangan asli—yg awalnya bersifat cerita-cerita yg terpisah-pisah—wajar dibuat “naratable” moga-moga becus dikomunikasikan pada bekas asing. Dalam implementasi domestik, sejarah cuma menyembul selengkapnya tempo ras serempak, sendiri-sendiri mengimbuhkan zat yg spesial ke penceritaan serempak. Setelah sekalian ini ditulis, kita putus perspektif performatif semenjak berbagi.

Jadi macam mana mau berkhasiat menurut berperan serta berarti menciptakan pikiran? Yang membelokkan nyata yakni bahwa menciptakan kesanggupan yakni melenceng homo- usaha menurut memasang permintaan, menurut melayani pengiriman bentala (tenung Gambar 3). Membahas kerangka jasmani mengenali mengusulkan korektif menurut modus operandi berpengaruh dengan berkontribusi menurut menciptakan visi kisah bersama-sama yg membenarkan kerukunan berarti usaha bekerja dengan mengenali.

« »