04 Aug
6:57

COVID-19: menentang bertambah erat bermula Jakarta

Minggu, 18 Juli 2021

Kakak biras aku gugur kemarin dulu, Sabtu dini.

Beberapa yaum yg lantas doi terjun lara. Kami menemukannya lagi menggelesot dalam asas graha ana dalam Jakarta Pusat. Tubuhnya lembut tulang, doi bukan sanggup merenjeng lidah, serta doi sahaja separuh insaf. Kami akal doi tertimpa stroke. Dia taksiran glukosuria, setuju aku lekas membawa siuh ke rumah obat mendapatkan meruncit perabot mendapatkan menilai sakaros darahnya. Itu jangap jangkung.

Aku membawanya ke graha lara. Di UGD graha lara, ana ditolak gara-gara saturasi oksigennya perlahan—kekuatan COVID-19. Saya membawanya ke graha lara peringatan COVID-19, memaklumi bahwa mereka sekotah asak. Kami pulang ditolak gara-gara doi belum dikonfirmasi absolut, setuju ana menetapkan mendapatkan membawanya kembali tambah.

Seorang kenalan meminjamkan ana silinder O sempit.

Keesokan harinya, ana menyelesaikan makmal privat mendapatkan swab antigen dalam graha. Positif. Putranya yg berumur 25 warsa jua absolut. Saya serta induk beras aku minus.

Malam itu aku bertandang menyidik ambulans. Tidak bangun yg siap. Di Puskesmas, aku benar senang via ukuran masa aku menentang tiga ambulans diparkir dalam ambang. Harapan itu luluh. Ketika aku berkunjung ke balai, aku disambut sama wahid karyawan mereka. Semua yg beda menyimpan COVID-19. Puskesmas berikutnya jua tidak berikhtiar. Mereka layuh. Kewalahan.

Ketika resistansi ini berjalan, yg sanggup aku lakukan hanyalah membawa siuh senyap-senyap. Para aparat kebugaran jua kekeringan kata-kata. Saya sahaja sanggup menyarankan barang apa yg mereka rasakan. Kami sekotah mengarifi. Bukannya mereka bukan menaruh minat. Mereka pernah kepenatan, serta layak mengantongi ketewasan.

Saya jua berkeliaran petang itu menyidik maksud balik O, via tabung dalam buat motor besar aku. Saya asian. Ketika aku mencapai dalam gerai, bekal mereka hangat melulu diisi balik. Saya mengantri dalam punggung seorang lanang yg mencurahkan bahwa doi tahu ke rangkap puluh bekas beda. Dia lagi menyidik maksud balik mendapatkan anaknya. Tabung oksigennya sekecil milikku. Itu meremukkan hatiku.

Kami jua menelepon berlebihan graha lara. Semua ditolak, alias bukan ditanggapi. Tapi berjalan-in luar biasa berisiko.

Namun, dalam dini yaum, aku menetapkan ana layak perkasa berekreasi. Istri aku, Angela, bercokol dalam graha berbareng rangkap bumiputra sempit ana. Dua aktivis pengawas kotor menyokong aku serta kemenakan aku menjunjung biras aku ke berarti maksud oto yg ana menyanggam. Di graha lara, resistansi tambah. Mereka asak. Mereka mencadangkan graha lara beda. Saya mempercepatnya—itu sama dengan petualangan sepuluh menit.

Pada waktu ana sampai dalam senun, kerabat biras aku pernah membawa siuh.

Karena doi absolut covid, aku mengakui izin pengurusan jenazah setakar adat Covid.

Aku kembali ke graha mendapatkan memikat busana mbak iparku. Mereka memasok tubuhnya dalam graha lara mendapatkan penguburan.

Kami menanti ambulans penguasa. Tapi itu luar biasa lambat. Kami menetapkan mendapatkan mengontrak ambulans graha lara.

Sepanjang prosedur, ana meninggalkan serta melanglang via sejumlah ambulans beda.

Rorotan, pemakaman yg hangat dibuka sejumlah candra lantas, terasa jelas. Itu asak via ekskavator! Mereka bangun dalam mana-mana, seluruhnya hidup basau menambang bolongan. Tanah itu bernuansa biram. Itu sama dengan pertiwi anom. Sama semuanya bukan ibarat makam yg intens. Semua ad hoc, selagi.

Pekerja via pulover hazmat bersih merancang pertiwi, menjunjung kotak, menyiapkan pertiwi dalam lembah bukit amat surya. Beberapa populasi setempat lagi menghasut dalam tangki terdamping. Seorang lanang via betah menyatukan silang bermula kediaman gawang, mengecatnya bersih, menyalin merek via spidol.

Ambulans langsung menyembul termakan. Peti ana termakan ke berarti maksud bolongan, serta sebuah ekskavator lekas memadatkan bolongan itu via pertiwi. Tidak lambat belakang hari, bolongan berikutnya, serta yg dalam sebelahnya, jua terisi.

Ini sahaja peranan Kristen. Kristen lain sebagian besar. Kami meninggalkan peranan beda yg bertambah repot.

Kami berpunya dalam senun sahaja catur puluh menit. Tetapi berarti maksud janji mini itu, bangun ambulans yg tidak terbatas jumlahnya. Ketika ana berkendara pulang ke graha ana berlari ke ambulans tambah.

Kegilaan.

[Translated from Indonesian by Tintin Wulia]

« »