09 Nov
12:15

“Martabat turunan Adam” paham tiorem Kamboja, kecendekiaan maka pembelaan publik awam

Pada 13 Agustus 2020, segerombol lembaga lokal maka mendunia mengompas Pemerintah Kerajaan Kamboja akan memperlalaikan “Draf Undang-Undang Ketertiban Umum” yg polemis—sebuah undang-undang dasar yg sudah dikritik melengking oleh luar biasa merangkai gua rakyat maka mengkhianati kelepasan berekspresi, blok, maka perakitan.

Dalam maklumat serentak mereka, gerombolan lembaga tertera mengompas kepedulian ala juntrungan yg ditegaskan RUU akan mengekalkan, penyeling asing, “nilai anak dunia.” Mereka berargumen bahwa tata susila ini mewujudkan pengingkaran tentang independensi perseorangan, maka bahwa “kehampaan akan menakrifkan penongkat nilai yg personal sebagai hati” bakal membocorkan gerbang jatah pemeliharaan maka segregasi yg tak setimbang. Tentu terus jinjing pusa akan resah—dalam penyeling berbagai ragam tindak-tanduk yg berpotensi dikriminalisasi laksana mengkhianati “nilai anak dunia” yaitu “berpandangan luar biasa melengking” maka melingkarkan baju yg “luar biasa ringkas” maupun “luar biasa transparan”.

Kontroversi RUU Ketertiban Umum hanyalah meleset uni motif per berbagai ragam komplikasi maka kontestasi yg menyungkup perisai “nilai”, jujur dalam Kamboja maupun dalam sarwa loka.

Kompleksitas maka kontestasi ini yaitu poin per cetak biru pengkajian yg era ini lagi dilakukan sama getah perca penyelidik per Pusat Studi Hukum Humaniter dalam Phnom Penh maka Queen’s University Belfast dalam Belfast. Selama setahun bontot, gerombolan tertera sudah mengusut penjelasan maka pendayagunaan yg beraneka warna, beraneka warna, maka terkadang paradoksal per “nilai turunan Adam” maka kondisi “nilai” lainnya dalam sarwa tiorem, kecendekiaan, maka pengarsipan publik awam Kamboja.

Penelitian ini didorong sama progres eksponensial kesarjanaan maka produksi kecendekiaan yg bertumpu ala rancangan “nilai turunan Adam” sepanjang heksa puluh warsa bontot. “Martabat turunan Adam” semakin dibingkai demi rancangan benar utama turunan Adam internasional – yg menerobos batas-batas kemasyarakatan, pikiran, tata susila, maka ketatanegaraan akan menuntut pengesahan turunan Adam” jumlah hati. Hal ini mampu ditemukan misalnya paham Piagam PBB, International Bill of Human Rights, Conventions on the Elimination of Discrimination against Women and All Forms of Racial Discrimination, maka belum lama sudah melekat paham Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 2030.

Mempertahankan pusaka benar utama turunan Adam maka awam: 30 warsa selesai PPA

Baik publik awam maupun penguasa ada karakter paham mengajar publik perkara tiorem, pelaksanaannya, maka hak-hak hukumnya.


Namun, barang apa makna “nilai turunan Adam” paham praktiknya layak sekaligus tak terbantahkan. Faktanya, distingsi istimewa keluar sekitar betapa “nilai turunan Adam” layak didefinisikan, betapa situasi itu mampu dilindungi sambil sebaik-baiknya, maka barang apa yg dibutuhkannya per dunia, badan non-negara, maka anak dunia. Kadang-kadang rupanya ada seluruh penjelasan yg paradoksal sekalian, mengatup kelepasan maka ganjalan ala tindak-tanduk turunan Adam maka alterasi lengkung mungkin sebati sambil beraneka warna tafsir perkara barang apa artinya ada benar.

Ketika “nilai turunan Adam” mengantongi sarung yg semakin fundamental paham program-program benar utama turunan Adam maka pengolahan mendunia, diskrepansi maka antagonisme ini selaku kian krusial. Mengimpor rancangan benar utama turunan Adam sebagai tertinggal ke paham susunan kemasyarakatan, ketatanegaraan, tiorem, maka tata susila yg berlainan mampu mencetuskan tantangan yg istimewa jatah mereka yg ditugaskan akan mengimplementasikannya. Hal ini serta mampu mengekang melalui “kepemilikan” setempat buat benar utama turunan Adam, berkontribusi ala tilikan bahwa mereka tak kian per pemaksaan Barat.

Di bidang asing, yg asing bersuara bahwa rancangan alur sungai laksana “nilai turunan Adam” menganjurkan energi yg istimewa demi cara akan memusyawarahkan maka menaikkan nilai-nilai alur sungai benar utama turunan Adam. Pada era benar utama turunan Adam semakin dianggap reseptif sebagai ketatanegaraan maka payah dibicarakan dalam sarwa Asia Tenggara maka sekitarnya, peluang laksana itu mustahak menemukan kepedulian.

Di Kamboja, pengkajian permulaan menampakkan bahwa “nilai turunan Adam” patut ada jumlah demi fasilitas akan menaikkan maka memusyawarahkan benar utama turunan Adam maka keselamatan turunan Adam. Kamboja sudah meratifikasi kian lebat perlengkapan benar utama turunan Adam dari mayoritas dunia dalam daerah itu—seluruh dalam antaranya sebagai terperinci menyatakan ala perisai nilai turunan Adam. Namun, persona Kamboja sudah bergelut akan menyentosakan peluang ke perisai benar utama turunan Adam paham praktiknya, senyampang terlalu sejumput pengkajian yg menyelisik penjelasan Kamboja yg diberikan ala rancangan alur sungai benar utama turunan Adam. Melalui pengkajian ini, abdi merakit berkontribusi akan menangkup kontradiksi wawasan ini.

Mengambil per Ringkasan Riset prima cetak biru, dalam sini abdi menganjurkan seluruh motif tak pleno perkara betapa nilai turunan Adam maka pembingkaian nilai lainnya dipahami maka digunakan paham tiorem, kecendekiaan, maka pengarsipan publik awam Kamboja.

Martabat Manusia dalam Kamboja: Jamak, Diperebutkan, maka Bertentangan

Pekerja pondok injak-injak memperingati Hari Hak Asasi Manusia, Desember 2015. Foto sama Yim Soth dalam Flickr. (CC BY-NC-ND 2.0)

Meskipun dimasukkan paham lebat perlengkapan benar utama turunan Adam yg sudah diterjemahkan ke paham tata susila Khmer, regu tertera tak mampu mendapatkan parafrasa Khmer yg “formal” akan “nilai turunan Adam.” Kami mendapatkan bahwa paham praktiknya, seluruh frasa digunakan, tergolong: sechaktei thlaithnaurabdi chea mnous (martabat batang tubuh demi turunan Adam); sechaktei thlaithnaur robsaabdi lebat sekaligus (martabat batang tubuh per turunan Adam); sechaktei thlaithnaur​ robsa bokkol mnous (nilai perseorangan turunan Adam); maka sechaktei thlaithnaur—knongnam chea mnous (nilai buat predikat turunan Adam).

Tidaklah nyata jatah kita bahwa ungkapan-ungkapan itu ada makna yg berlainan uni layak asing, serta tak melahirkan betapa “nilai turunan Adam” dipahami. Yang kian menjambak jatah abdi yaitu kebiasaan yg mendasarinya rancangan lagi digunakan maka dipahami, oleh parafrasa verbatim per “nilai turunan Adam” paham praktiknya patut terlalu berlainan per penjelasan yg disampaikan paham tata susila parafrasa. Kami serta mendapatkan bahwa “nilai” dipasangkan sambil rancangan asing, laksana “nilai anak dunia” yg dilindungi sama RUU Ketertiban Umum, “nilai kapita”, “benar buat nilai”, maka nilai kapita spesial. .

Terjemahan menyimpangkan serentak per frasa ”nilai turunan Adam” ditemukan paham latar belakang hak-hak orang upahan maka keadaan aktivitas. Misalnya, nilai turunan Adam ditemukan membutuhkan uang lelah yg patut paham Undang-Undang Ketenagakerjaan Kamboja warsa 1997 maka keadaan gawai yg surup paham KUHP.

Hubungan penyeling nilai turunan Adam maka keadaan gawai ini mampu dihubungkan sambil kesanggupan pembelaan paser berjarak per Organisasi Perburuhan Internasional dalam Kamboja, yg sudah memfokuskan pentingnya “keadaan gawai yg bergengsi” sepanjang kian per 100 warsa. Namun, gancu sambil nilai turunan Adam serta tampak paham perwujudan gerombolan publik awam setempat, yg mengadvokasi penongkat perburuhan yg kian jujur maka keadaan gawai yg bergengsi akan gerombolan spesial, laksana pematung maka perempuan dalam pabrik rekreasi. Dalam latar belakang ini, nilai terikat sambil keadaan gawai sekurang-kurangnya, dengan non-diskriminasi maka kelepasan per kekejaman.

praktisi garmen Kamboja. Foto sama ILO Asia-Pasifik dalam Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Di pengembara latar belakang hak-hak orang upahan, abdi mendapatkan bahwa acuan perkara rantai penyeling “benar utama turunan Adam maka nilai” kerap dibuat paham sebutan yg layak ijmal. Misalnya, Pemerintah Kerajaan Kamboja sudah mengambil “menaikkan benar utama turunan Adam maka nilai” dalam penyeling tujuan-tujuan menyeluruhnya paham ganda Rencana Pembangunan Strategis Nasional terakhirnya. Demikian lagi KUHP 2007 menjelaskan bahwa KUHP sebagai kebulatan menghibahkan pengaktualan jelas tentang “nilai kapita, pertemuan bagai jantina maka sandar benar properti” seperti terkandung paham Konstitusi.

Persyaratan yg kian karakteristik kadang-kadang ditemukan, sambil Konstitusi 1993 mengambil “nilai anak dunia” yg meminta prohibisi penawanan yg tak makbul, teratu maka penghujatan materi tentang gangguan, pengesahan yg tak makbul maka vonis bejat. Dalam latar belakang ini, nilai turunan Adam dipahami demi mengekang gerakan dunia. Interpretasi laksana itu serta tampak paham perwujudan LSM benar utama turunan Adam, yg menyedot tata susila yg bergengsi akan mengecam pemisahan kelepasan berekspresi maka pendayagunaan ketahanan tentang pengunjuk melalui.

Sedangkan contoh-contoh tertera menampakkan bahwa nilai turunan Adam dipahami demi materi yg membutuhkan berbagai ragam perisai benar, abdi serta mendapatkan status dalam mana nilai disebut demi penegasan akan mengekang benar persona asing.

Ini menyimpangkan ijmal paham kaitannya sambil kelepasan berekspresi. Kami memperingatkan paham pengantar kata bahwa RUU Ketertiban Umum sebagai terperinci mengambil “nilai anak dunia” dalam penyeling penegasan akan memberitahukan berbagai ragam pemisahan kelepasan berekspresi, maka ini serta tampak dalam sarung asing. Misalnya, Sub-Keputusan 2021 memberitahukan pemisahan pemasokan internet sambil pusa “kesejahteraan, harmoni ijmal, nilai, pikiran, kultur, maka kerutinan publik.” Meskipun ini yaitu motif belum lama, pendayagunaan nilai akan menghambat kelepasan berekspresi bukanlah situasi gres dalam Kamboja, serta tidak rantai penyeling nilai maka “kerutinan publik”: Pasal 41 Konstitusi 1993 menyendat pendayagunaan kelepasan berekspresi “akan mengkhianati nilai persona asing, akan mempengaruhi tabiat yg jujur maka budaya adat publik, harmoni ijmal maka keselamatan lokal.” Martabat paham latar belakang ini terkadang diterjemahkan demi “kemasyhuran.”

Pada giliran asing, nilai kapita spesial sudah digunakan akan mengekang kelepasan berekspresi persona asing. Misalnya, amandemen KUHP Kamboja warsa 2018 (Pasal 435 bis) menyendat “sebutan, renyut jasmani, catatan, vinyet, maupun muatan yg bakal mempengaruhi nilai Raja”—“nilai” dalam sini serta mampu diterjemahkan demi “nama baik” maupun “reputasi”. Ini merefleksikan Pasal 502 KUHP, yg menakrifkan maka menyendat “rasa malu” yg “menggelisahkan nilai seseorang.”

Perempuan baru Kamboja dalam daftar UN Women berbicara kekejaman tentang nisa. Foto sama Sara Hakansson dalam Flickr (CC BY-NC-ND 2.0)

Akhirnya, maka melambangkan beraneka warna penjelasan yg mampu dipegang sama nilai turunan Adam, abdi mendapatkan seluruh status dalam mana nilai turunan Adam sama-sama a ganjalan maka perisai. Hal ini terlalu ijmal paham kaitannya sambil tiorem maka kecendekiaan menimpa “nilai nisa”. Misalnya, prohibisi bazar turunan Adam maka pemerasan seksi merakit akan menyembunyikan “nilai nisa”, walakin serta merujuk ala “nilai-nilai Khmer” maka “kebajikan kemasyarakatan.” Kami mendapatkan bahwa lembaga publik awam kerap menyigi kecurangan yg patut dihadapi nisa buat profesionalisme mereka, menampakkan bahwa “nilai nisa” serta mengawatkan ambisi spesial sekitar tindak-tanduk yg semenggah.

Kesimpulan

Apa yg sangat suka abdi soroti sambil mendistribusikan contoh-contoh ini yaitu bahwa dalam Kamboja, laksana paham latar belakang asing, rancangan nilai turunan Adam dikemas sambil penjelasan yg menggelantung ala latar belakang, yg mampu membonceng bertumpang tindih, maka yg mampu beriring-iring sebagai serentak uni layak asing. Makna-makna ini ala gilirannya mampu menuju ala kepastian yg beraneka warna maka paradoksal, tiba per perisai benar utama turunan Adam maka peningkatan keadaan gawai maka aktivitas yg patut, had pemisahan benar maka kelepasan. Selain itu, barang apa yg dimaksud sambil “nilai” paham tiorem maka kecendekiaan Kamboja tak sepanjang masa nyata, sehingga mencetuskan kejerian bakal tafsir yg manasuka maka segregasi tentang warga yg suah terpinggirkan maupun sensitif sebagai ketatanegaraan.

Tak uni pula per ini dimaksudkan akan menampakkan bahwa nilai turunan Adam tak ada jumlah demi rancangan benar utama turunan Adam yg berpegang. Jelas per pengkajian permulaan abdi bahwa benar-benar begitu. Namun, situasi itu menampakkan perlunya kehati-hatian yg kian akbar sebelum mengandaikan “keuniversalan” per konsep-konsep tertera, maka akan kian lebat perbincangan sekitar realitas berselerakan yg kerap mengantar pengalihbahasaan konsep-konsep gerendel benar utama turunan Adam ke paham latar belakang yg beraneka warna. Selama seluruh rembulan ke front, abdi bakal menasyrihkan serangkaian tanya jawab sambil persona Kamboja per segala petala publik akan melampan kian paham penjelasan, kepentingan, maka jumlah yg diberikan ala nilai turunan Adam. Dengan begitu, abdi berhajat pengkajian abdi mampu berkontribusi ala perbincangan ini.

Artikel ini diambil per cetak biru pengkajian ganda warsa berjudul, “Menemukan ‘Martabat Manusia’ dalam Kamboja”. Proyek ini mewujudkan kooperasi penyeling CSHL maka Queen’s University Belfast maka didanai sama British Academy Humanities and Social Sciences Tackling Global Challenges Fund, sambil bilangan kado: TGC200177. Untuk penjelasan kian berumur hubungi Peneliti Utama dalam [email protected] Anda mampu mengakses ijmal pengkajian abdi paham tata susila Inggris maka Khmer maka menjumpai kian berumur perkara cetak biru ini dalam sini.

« »