02 Sep
11:32

Mempersenjatai COVID-19 – Mandala Baru

COVID-19 sahih sebagai rahmat maka laknat ransum Prayuth Chan-ocha, pertama bendahara tangguh Thailand maka bekas kepala junta. Tanggapannya yg tak ahli sudah menyulut depresi kemasyhuran maka membludaknya penentangan. Namun, analog melalui rezim diktatorial lainnya, COVID-19 melepaskan sebab menjelang rezim Prayuth menjumpai mengatur warganegara. Namun, pemerintahan Prayuth menarik langkah kian terpencil pada rekan-rekannya menjumpai mempersenjatai COVID-19 memprotes getah perca penghalang.

Pandemi kasdu tak kasdu membutuhkan kian melimpah penyekatan akan lurus maka kekuasaan. Pemerintah pandai memercayakan kedok mimik maka menaungi tengka kemasyarakatan. Itu layak meredam perjumpaan, teperlus yg ketatanegaraan, maka mencegah kunjungan. Privasi dikompromikan sehingga penguasa pandai menelaah maka menelaah orang sakit. Singkatnya, COVID-19 menuntut rezim yg kian diktatorial. Sayangnya, rezim Prayuth yg diktatorial berlebihan rampung memakai harapan terkandung.

COVID-19 datang tumbuh ala waktunya menjumpai menyurutkan penentangan yg lagi meningkat dekat sekujur tempat kelahiran. Pada Februari 2020, konglomerat berangkat bermunculan selaku pantulan bagi penutupan Partai Masa Depan sama Mahkamah Konstitusi, sebuah kubu babil maverick. Pada candra Maret, waktu kasus-kasus melompat, penguasa memohon Keputusan Darurat 2005 menjumpai melegalkan penguncian, tapi pengunjuk mengalami sudah memecat pribadi malahan sebelum berita status mendesak. Namun, COVID-19 cuma membayar Prayut semua periode. Penanganan COVID-19 yg cabik-cabik menyulut geruh-gerah perniagaan. Frustrasi, penentangan mencagun mudik buru-buru sesudah COVID-19 mereda ala medio Juli.

Protes 2020 membuat gertakan eksistensial ransum kawasan Thailand. Puluhan mili pengunjuk mengalami yg naik geram menuntut perombakan segala tiang ulung Thainess, misalnya otokrasi maka serdadu. Pemerintah Prayuth Chan-ocha sudah memohon setiap senjata yg terhidang menjumpai memprotes, teperlus COVID-19.

Prayuth tak tahu mencabut peraturan mendesak yg meredam berkumpulnya persona melimpah. Pelanggaran pandai membawa dampak batas 2 tarikh rumah pasung ataupun kompensasi 40.000 THB, ataupun keduanya. Beberapa syarat tanah lapang dikeluarkan menjumpai menjelaskan prohibisi terkandung. Di posisi penentangan, suah sebagai ritus ransum petugas keamanan menjumpai mengimlakan nasihat sumbut Keputusan Darurat sebelum penentangan. Saat menjalankan penjeratan, pemungkiran akan kesimpulan mendesak terus-menerus ditambahkan ke batin urutan pemungkiran. Anehnya, tak diam COVID-19 yg dilaporkan pada penentangan ini. Sebagian longgar akseptor melingkarkan kedok, sepihak menjumpai mencegah COVID-19, tapi yg kian vital menjumpai mengadakan asap cecair benih maka memencilkan rekognisi.

Pada tarikh 2020, COVID-19 hanyalah sebab menjumpai mengerem kekuasaan berkampung maka berekspresi ketatanegaraan awak Thailand. Ini mengosek melimpah pengunjuk mengalami tapi tak tahu sebagai gertakan jelas. Semua itu beralih ala tarikh 2021, waktu penguasa memudahkan sabaran. Polisi berangkat menuntut biang pro-demokrasi, terpenting melalui lese majeste, tapi saja pemungkiran parak kaya pemberontakan. Pengadilan tak sedang menampakkan penundaan waktu. Jaminan ditolak melalui pasti. Pada Februari 2021, sepihak longgar kepala kancing berharta dekat rumah pasung.

Ketua Mahkamah Agung sudah menghembuskan semua pelatihan maka testimoni hibah cagaran ataupun pelucutan tatkala peranan memotong efek penjangkitan COVID-19. Namun, batin urusan ketatanegaraan kaya itu, ketua sidang sahih tak menghiaskan usulan itu.

Penjara Thailand masyhur berkat kondisinya yg mengerikan. Tingkat detensi menghuni kelas lupa tunggal yg paripurna dekat kosmos. Penjara penuh timpat maka kebersihan diri kosong. Yang terutama, koneksi pada maka ke kosmos perantau dikontrol melalui selektif. Semua sudut ini mewujudkan rumah pasung selaku persil produktif ransum COVID-19.

Selama COVID-19, Lembaga Pemasyarakatan melegalkan penyekatan yg kian selektif akan pesakitan. Hanya seorang adjuster yg dapat mengunjungi mereka. Kerabat, lagi pula simpatisan, tak diizinkan. Bahkan dekat palka mahkamah, pemelihara rumah pasung mengukuhkan bahwa persona berumur tak bisa meraba ataupun bercakap melalui getah perca halangan ketatanegaraan ini. Perlakuan tambahan ini kelihatan kian kaya tatanan kesengsaraan intelektual dari pencegahan COVID-19.

Setibanya dekat kian, Anon Nampa, lupa tunggal kepala penentangan, membayari ingat pengacaranya bahwa, dekat pusat sore, personel mengepas menghembuskan halangan ketatanegaraan pada organ mereka. Mereka menanggung lagi menjalankan ujian COVID-19 tapi pesakitan empot-empotan mereka mau ditipu sebagai zat yg kian khusyuk. Menurut gerbasgerbus, semua biang berharta dekat urutan genosida pada stamina yg diam. Kematian batin halangan bukanlah sebuah khayal paranoid tapi sebuah probabilitas yg jelas maka masa ini.

Pada medio April, Thailand dilanda aliran terburuk COVID-19. Kasus perdana terangkat sebagai ratusan setiap yaum. Terlepas pada permintaan kedamaian, COVID-19 sudahnya memukul organisasi rumah pasung. Satu tiap-tiap tunggal tapol dinyatakan eksplisit. Sementara getah perca simpatisan merekes seharusnya mahkamah memenungkan menjumpai melepaskan cagaran menjelang getah perca kepala mereka menjumpai memotong kerapatan dekat rumah pasung maka menguatkan mereka mengakses pemeliharaan medis yg senonoh, mahkamah sahih bena tidak bena. Satu tiap-tiap tunggal, tapol dipaksa tunduk ala kesempatan vonis mahkamah menjumpai mencium cagaran. Pengadilan melegalkan kemestian menjumpai tak turut serta batin penentangan parak, menyerang menyentil otokrasi, ataupun menghasut kekalutan. Pada dasarnya, mereka tak bisa sedang mengurus penentangan, sungguhpun mereka belum diadili ataupun dihukum berkat pemungkiran terkandung. Tapi godaan itu sedang terpencil pada rampung. Beberapa Lapas, kaya Panassaya ‘Rung’ Sitthijirawattanakun, kesudahannya dinyatakan eksplisit. Ibu maka kerabat perempuannya dinyatakan eksplisit maka dirawat dekat graha ambruk. Aktivis, simpatisan, maka adjuster lurus dasar individu lainnya saja terjangkiti COVID-19 pada tandem maka pelanggan mereka yg dibebaskan. Seorang biang atasan, ‘Song’ Sakchai Tangchitsadudee, membelanjakan periode berbulan-bulan dekat ICU. Untungnya, tak diam yg berkalang tanah.

Akhirnya, semua biang ini mengkritik arahan mahkamah maka mudik menolak. Protes tarikh 2021 beralih sebagai kian khusyuk maka konfrontatif. Polisi sebagai transparan mengetengahkan konflik tapi orang-orang saja kian naik geram. Lockdown berbuntut minus markah. Ekonomi memburuk maka graha ambruk menjelang kedudukan penuh. Orang-orang berangkat padam nyawa dekat jalanan. Pemerintah mempergiat upayanya menjumpai menaburkan penerangan yg lupa menjumpai mencegah penentangan. Akun pseudo berangkat berpusing menyatakan sudah menyerkap COVID-19 pada turut serta batin konglomerat.

Pada candra Agustus, mahkamah mencabut cagaran menjumpai getah perca biang ini, maka menolak cagaran menjumpai semua sedang. Polisi mengajukan aduan perdana. Mereka mudik dekat rumah pasung. Mereka layak dikarantina semasih 14 yaum yg malahan tak memberi seorang adjuster juga menjumpai bertamu. Jelas petunjuk ini menyaruk lurus konstitusional pesakitan menjumpai mencium mahkamah yg selayaknya. Dalam seminggu prima, semua tapol, terpenting Parit Chivarak, ataupun Penguin, suah tertimpa COVID-19. Meski diam sanggahan pada paksa Lapas, sahih bahwa wabah dekat Lapas paling merajalela. Sipir rumah pasung saja tertimpa COVID-19 maka seorang adjuster pemelihara sedang tertimpa COVID-19. Penjara menolak penunjuk ke graha ambruk perantau, bersitegang mengirim orang sakit ke graha ambruk rumah pasung yg dikenal dekat lunas kapal cagak.

Seberapa cabik-cabik status rumah pasung? Kementerian Kehakiman merilis penerangan yg paling sececah menjelang masyarakat tapi sahih bahwa Departemen Pemasyarakatan tak pandai melepaskan pemeliharaan kebugaran yg patut menjumpai darurat terkandung.

Semua itu tidak berisi penguasa asa merancang COVID-19 selaku senjata menjumpai menetralisir getah perca kepala penentangan. Pengadilan kepingin tak embuh getah perca pesakitan yg kabur ini padam nyawa. Tetapi ketidakpedulian mahkamah akan ketidakadilan maka ketaatan pilong akan arahan atasannya menjumpai tak melepaskan cagaran menjelang terdakwa lese majeste, berhubungan melalui konteks rumah pasung yg suah diam sebelumnya, mewujudkan COVID-19 senjata mangkus menjumpai terpaku masyarakat yg naik geram maka melestarikan rezim diktatorial. pada Prayut Chan-ocha. Setiap persona yg berpengetahuan pandai memantau bahwa konsolidasi kaya itu melukiskan vonis ataupun teratu yg tak kemanusiaan, yg dilarang batin butir 28 Konstitusi Thailand. Tapi tiru melarat segalanya yg tertinggal ransum getah perca biang, berkat mahkamah bergerak selaras melalui penguasa maka petugas keamanan menjumpai menundukkan penentangan? Beberapa ketua sidang patut ada keturunan dekat yad mereka.

« »