11 Jul
4:03

Mendongeng, sabotase serta parodi dalam Pulau 1001 Tita Salina

Dua tarikh lampau, Galeri Nasional Australia Dunia Kontemporer: Indonesia peragaan dibuka mendapatkan ijmal. Di liang ketiga liang galeri bertumpu reca yg terdiri mulai tunggal ton plastik; dibungkus jala lauk mendapatkan mendirikan daratan, serta didukung sama tong petro serta guntang. Di kaki kirana bohlam yg terpuji, salut gula-gula Indonesia serta salut keripik dengan kangsam minuman remeh bersinau-sinau; bangkang anom berumur, biru pastel, muda, serta salut bernuansa logam mulia bersinau-sinau dalam kaki kirana. Ada perasaan embuh kenal serta terkesiap yg pegari bersama menjumpai kotor dalam liang galeri yg difumigasi serta disanitasi; sebuah campur tangan berseni yg mempersatukan out-of-place serta menyengkak sebagai korespondensi yg pelik (tapi baik).

Artis, Tita Salina, melek dalam bibir daratan plastiknya dalam pemungkas rekan prelude Contemporary Worlds: Indonesia. Gambar hak Galeri Nasional Australia, Canberra

Karya keterampilan yg dimaksud berjudul 1001st Pulau: Pulau Paling Berkelanjutan dalam Nusantara (2015), sama artis permulaan Jakarta, Tita Salina. Masalah kotor plastik sama dengan subjek eminen yg sebagai afeksi jeluk aksi artis, dengan jeluk tindakan keterampilan yg diproduksi sama—serta bersama—rekan permanen artis, Irwan Ahmett. Dalam permintaan Tita bahwa kumpulan kotor ini sama dengan “yg mengelokkan terus-menerus” dalam daratan nusantara, bertumpu lelucon yg dilebih-lebihkan serta karikatural; walakin dalih itu permanen sah. Karena daratan ini terbuat mulai plastik, itu sayup tiada sanggup dihancurkan. Di memintas penggubah tindakan keterampilan, karikatur, campur tangan, serta seloroh jahanam dipersenjatai mendapatkan menjenggut afeksi atas isu-isu kancing yg dihadapi bentala kesempatan ini; serta kena 1001st Pulau, Tita menghabiskan strategi ini mendapatkan menjuju tema keberlanjutan yg menudungi negeri, mengabadikan atas keterampilan pementasan serta sistem berkisah mendapatkan mendeskripsikan waritaasal usul mulai metropolitan yg kelebu serta porak-poranda.

Banjir serta penggusuran pihak dalam Jakarta

Orang-orang, ketatanegaraan serta perencanaan bersabung dalam maktab cemar tebing batang air Kampung Pulo.


Mendampingi instalasi reca kotor sama dengan estimasi keterampilan film yg menyimpan pengolahan “daratan” ini: sistem dwi minggu, partisipatif, kedap tindakan, dalam mana artis berbicara bersama nelayan nasional mulai Muara Angke mendapatkan menghimpunkan kotor mulai Teluk Jakarta. Di kedua instrumen, 1001st Pulau menginvestigasi bersama lembaga yg berat cergas serta liris patahan sempang ihwal ihwal kerangka, pencemaran plastik, serta naiknya satah bahar yg endemik dalam sekujur bentala. Tetapi bertumpu saja kondisi nasional atas tindakan keterampilan ini, tertentang mulai kegiatan yg tiada sudah stop—serta jeluk belacak kejadian, rusak—merakit menggosok pesisir serta batang air Jakarta waktu berlebihan belacak kotor. Tahun lampau, pembatasan kopek plastik seluruhnya mengenakan diperkenalkan dalam Jakarta mendapatkan supermarket, minimarket, serta pasaran incaran lama. Ada saja polemik yg lagi berlanjur sekeliling tawaran “Tembok Laut Garuda Besar” yg direncanakan. Dan, positif cuming, urgen saja mendapatkan mengenali kelas Jakarta selaku metropolitan yg mengelokkan banter kelebu dalam satelit ini; gelogok relevan akan fokus pencaharian belacak kelompok tepi laut serta perkotaan.

Melalui belacak sistem langkah, campur tangan, perbahanan molek, serta penerapan beradab film maupun tindakan keterampilan ukir, Tita menyelusuri runut perdua artis Indonesia keturunan sebelumnya: “turun ke kaki” ke sarung pergulatan serta kontestasi; menghabiskan keterampilan mendapatkan menyimpan serta sebagai saksi ahli, serta mendapatkan menguatkan kedukaan kelompok yg terpinggirkan. Kemudian jeluk film, Tita mengambang dalam bagi kedewaan daratan yg kancap ragi serta langka, serta darat kotor sebagai cungkup barunya. Dari posisinya selaku kelompok metropolitan megalopolis yg penuh pekat serta ketang ini, Tita menyorongkan kisahan yg bertimbang sempang yg fadil serta yg nakal; menganjurkan pemandangan seragam idealis, lamun bersama serejang saja kala pendahuluan dystopian yg nyata.

1001st Island – Pulau Paling Berkelanjutan dalam Nusantara (2015)
Video terusan satu: 14:11 menit, ragi, bunyi.
Produced for Jakarta Biennale (Jakarta, Indonesia), 2015.
Gambar hak penggubah, menyeberangi YouTube.

Dalam kisahan yg terkembang mulai tindakan keterampilan ini, bertumpu bidang performatif serta menyimpang yg nyata yg digunakan artis mendapatkan menafahus serta menyongsong tanggapan terhadap kedewaan rekaan yg acap dicirikan sama Indonesia. Dalam film tertulis, si artis mengabaikan dirinya jeluk vista kemasyarakatan serta dunia, serta, bersama mengabulkan itu, menjenggut afeksi atas realitas tersirat yg menyebuk dalam kaki indikasi satah pesisir, sarung preinan bertaburkan nur mentari. Di kaki osean daratan biru yg tertentang atas folder mengkilap sama dengan tumpukan kotor plastik yg mengambang semakin suntuk mulai noktah asalnya: Jakarta.

Saat Tita dalu ke bahar bersama telatap kotor plastiknya, “daratan” miliknya sebagai bumbu terbaru mendapatkan Kepulauan Seribu pertalian daratan yg terwalak dalam paksina Jakarta. Wilayah yg disebut sama pelancong selaku “Kepulauan Seribu” ini cengli belaka terdiri mulai 110 daratan. Dengan menerangkan -nya daratan selaku ‘1001st‘, Tita memutarbalikkan pikiran pertalian daratan ini; mengintervensi serta merobohkan pemandangan, pemikiran, serta maksud yg “eksentrik” serta “romantis” bersama mengasung pada pirsawan sebuah daratan yg satir, mengejek, serta menyimpang. Rakit Tita sepertinya yg 111ini daratan, tapi, bersama mencirikannya selaku 1001st, yg dilebih-lebihkan serta hiperbola menghabisi pemandangan vista yg tinggal tertinggal, serta menyongsong pirsawan mendapatkan melihatnya mulai prospek yg senjang.

1001st Island: The Most Sustainable Island in the Archipelago (2015) Video terusan satu: 14:11 menit, ragi, bunyi. Diproduksi mendapatkan Jakarta Biennale (Jakarta, Indonesia), 2015. Gambar hak penggubah, per YouTube

Berdiri dalam bagi daratan kotor serius, Tita menerangi lupa tunggal polaritas berfundamen mulai pertalian daratan ini: mendapatkan mendatangi kedewaan yg seringkali persona, baik, serta (kalau-kalau) masif ini, Anda perlu lebih-lebih di depan melintasi osean kotor yg ditemukan dalam Teluk Jakarta. Ini suntuk mulai ihwal yg belaka terlaksana dalam Jakarta serta and Kepulauan Seribu; itu sama dengan ihwal yg saja termanifestasi dalam segala sesuatu yg disebut “daratan kedewaan” ibarat Bali. Meskipun belacak mulai sumur ihwal ini mampu ditemukan dalam turisme, kejadian itu saja—ibarat yg pernah ditunjukkan sama si artis—ihwal penyelenggaraan kotor yg bertambah selebu yg menudungi belacak sarung dalam negeri ini. Daun mauz, misalnya, sudah digunakan selaku cangkang ijmal mendapatkan incaran dalam Indonesia: objek yg sanggup dibuang dalam asing dalam rute selangkah, serta berat sederhana buyar. Karena plastik pernah menggantikannya selaku suri pembalut yg disukai, bagaimanapun, impak dunia pernah meroket; selaku sijil Tita jeluk permakluman Kelembaban Mutlak selangkan preman rakitan incaran masa ini menghabiskan salut plastik, aku tinggal menyandang kegaliban yg sesuai [in discarding wrappers]”.

Dalam mendirikan daratan kotor ini serta bekerja sama bersama populasi nelayan, Tita’s 1001st Pulau menaikkan pertemuan yg bertambah selebu terhadap isu-isu komprehensif penyelenggaraan kotor serta plastik, dengan pemikiran daratan selaku lupa tunggal “sortiran ujung” jeluk menahan transfigurasi dunia serta ilmu lingkungan megah. Meskipun perintah dunia mulai film tertulis berkumandang bersama saksi komprehensif, Tita berpidato menyeberangi tindakan keterampilan ini mulai vista senjang mulai seorang kelompok Jakarta yg menghandel ihwal nasional: terseret bersama populasi mulai prospek serta sarung yg acap diabaikan.

Dari kehormatan ini, Tita menghabiskan keterampilan selaku metode mendapatkan menahan serta memvisualisasikan kedudukan dunia serta kemasyarakatan yg serius, serta merekomendasi jalan keluar—betapapun trendi serta tiada kena akalnya itu. Dia terseret jeluk kegiatan sabotase, berkisah serta parodi mendapatkan menjenggut afeksi atas isu-isu yg dihadapi lingkungan Teluk Jakarta. Jakarta sama dengan “supermarket ihwal”, komentarnya; lamun, selaku artis nasional, ini saja melukiskan “supermarket angan-angan”. Dengan campur tangan kemasyarakatan yg berbicara selaku lungsin bangkang dalam belacak tindakan artis, 1001st Pulau mengundang pirsawan mendapatkan menimang-nimang ihwal kotor plastik mulai prospek yg sepertinya tiada jamak serta trendi, lamun diperlukan mendapatkan menahan ihwal yg bertambah jeluk (serta seringkali eksistensial) yg dihadapi maktab kesempatan ini.

« »