28 May
6:29

Perpecahan pada bermakna sangha: jawaban yg bertentangan berkenaan pengambilalihan kekuasaan Myanmar

Parmaukkha, seorang pertapa Burma yg prominen memakai ulah ultra-nasionalisnya, berkomentar bahwa penghuni Burma “yg becus mengenapkan era hadapan bukan bakal menentang cucuran [junta] penguasa”. Dia mengakui pernyataannya memakai impetus bahwa Aung San Suu Kyi yg dipimpin Liga Nasional mendapatkan Demokrasi (NLD) melambangkan risiko ensiklopedis ransum tuntunan Buddha serta etnik Bamar. Reaksi pada renggangan sangha Buddha (orde wihara Buddha) pada Myanmar berkenaan pengambilalihan kekuasaan Februari, bagaimanapun, tersendiri bermula sebangun.

Kepala wihara Mingyi pada Mandalay, Myawaddy Sayadaw, ditahan sekadar segenap yaum selepas pengambilalihan kekuasaan 1st Februari. Dia sama dengan terbalik esa pengkritik menyesatkan seru berkenaan junta serdadu serta bermakna segenap rembulan per penangkapannya, segenap wihara asing pernah digerebek memakai junta yg meratifikasi karet pertapa yg menyelenggarakan penentangan anti-kudeta. Biksu asing yg ditangkap terhitung Thaw Pa Ka. Menariknya, lemah-lembut Thaw serta Myawaddy masuk bermakna Revolusi Saffron 2007, kala karet pertapa turun ke rintisan berbanyak-banyak serta menyelenggarakan penentangan mendapatkan mendeklarasikan ketidaksetujuan berkenaan pembatalan tunjangan keterangan memanaskan, sebuah aktivitas yg menyebabkan perkembangan harkat sasaran serta keinginan sehari-hari. . Meskipun aliran penentangan menyertakan lingkaran asing kaya purnawirawan Generasi 88, karet pertapa selaku rupa penentangan kala mereka menjempalikkan basi, mengungkapkan bahwa mereka menolak amal bermula junta serdadu serta atas itu menggerecoki legalitas ketatanegaraan serta moralnya.

Hubungan renggangan pertapa serta serdadu bagaimanapun, pernah berganti sebagai berarti per Revolusi Saffron. Sejumlah ensiklopedis pertapa yg masuk bermakna Revolusi Saffron pernah dipenjara ataupun dikirim ke pengabaian, memakai sangha bermakna kondisi yg tersendiri makin lembek mendapatkan memaras pusingan penentangan anti-militer. Nasionalisme Buddhis pernah menghuni bekas yg makin primer pada sangha dari yg berjalan esa sepuluh tahun lewat, atas risiko yg dirasakan bermula Islam pada Rakhine serta kantor asing Myanmar.

Untuk keinginan fokus pencaharian
Secara historis, tuntunan Buddha pada Myanmar pernah terangkai memakai surat perkara rezim serta legalitas. Di abad pra-kolonial, kerajaan Burma mengantongi kekerabatan yg berbalas-balasan berjumbai memakai sangha. Sangha bakal mengganjar legalitas makna untuk Raja, demi gantinya sangha mengurus demi pengayom serta pemelihara kredo Buddha. Jika Raja dianggap rusak tumplak tugasnya, sangha bakal beradu menetralkan legalitas makna serta ketatanegaraan. Meskipun kerajaan dihilangkan sepanjang rezim kolonial, rongkongan legalitas sepotong ensiklopedis konsisten menyeluruh. Sangha langsung mengasakan pemerintahan yg dominan — terkupas bermula apakah itu dipilih ataupun bukan — mendapatkan mencarikan agama Buddha. Karena sangha putus pencaharian pelindungnya memakai pembeberan kerajaan Burma sepanjang rezim kolonial Inggris, karet pertapa selaku berjumbai atas orang Bamar sewajarnya yg sepotong ensiklopedis berakidah Buddha mendapatkan pemberian serta amal kuil. Akibatnya, karet bhikkhu selaku berjumbai atas kesentosaan publik serta makin tersendiri kembali, prestise mereka demi koordinator kebatinan melancarkan mereka sungguh-sungguh terkebat serta hirau memakai kemalangan pemeluk Buddha serta Bamar sewajarnya. Beberapa pertapa serupa bekerja demi koordinator publik tempo mereka menerapkan sistem yg menunaikan perbuatan baik serta order kemasyarakatan mendapatkan tubuh populasi yg bergumul, yg mendatangi ke peran serta mereka bermakna aliran penentangan kemasyarakatan sepanjang bertahun-tahun.

Bangkitnya chauvinisme Buddha

Dalam sepuluh tahun final, kekerabatan yg makin ketat renggangan sistem ultranasionalis Buddhis definit serta serdadu pernah menyempal, atas kedua lingkaran terkandung agak-agak berkenaan “risiko Islam” yg dirasakan. Beberapa lingkaran ultra-nasionalis yg dipimpin sama karet pertapa pernah terjalin bermakna sepuluh tahun final. Memanfaatkan kegawatan yg menumpuk renggangan Muslim Rohingya serta Buddha pada Rakhine, kelompok-kelompok ini mengakui ulah ketatanegaraan barut santer mereka berkenaan sebagian besar serta eksklusivitas memakai tipu daya menangani serta mengekalkan sāsana Buddha bermula risiko eksternal. Pada gilirannya, kelompok-kelompok ini sebagai kentara membawa serdadu, yg menyongsong aktivitas kekejaman berkenaan Rohingya.

Ancaman karet pertapa reaksioner Myanmar

Ma Ba Tha becus membubarkan peralihan ketatanegaraan daerah, catat Oren Samet.


Salah esa lingkaran menyesatkan menjendul, MaBaTha (Asosiasi mendapatkan Perlindungan Ras serta Agama) merebut karet pendukungnya mendapatkan menunjuk Partai Persatuan Solidaritas serta Pembangunan (USDP) yg didukung serdadu atas Pemilihan Umum 2015. Dan atas warsa 2017, Sitagu Sayadaw, terbalik esa pertapa Myanmar yg menyesatkan dihormati, memetik bermula “The Victory of Dutthagamani” sepanjang kuliah mendapatkan opsir serdadu memakai bekas yg menyiratkan bahwa pembantaian massal non-Buddha sah. Ashin Wirathu, seorang koordinator gerendel bermakna MaBaTha — yg dituduh menghasut kala Liga Nasional mendapatkan Demokrasi (NLD) dominan — merebut karet pendukungnya mendapatkan “menunaikan peristiwa yg boleh” bermakna Pemilu 2020, yg kementakan ensiklopedis dianggap merebut pengikutnya mendapatkan menunjuk NLD. Berbeda memakai USDP, NLD dianggap sama sepotong pertapa pembela negara demi bagian yg bukan bakal mengutamakan perisai tuntunan Buddha serta kesuciannya pada daerah kantor.

Perkembangan asing per revolusi 2007 sama dengan kekerabatan renggangan serdadu serta lingkaran ultra-nasionalis semakin ketat serta tersibak. Menggambarkan dirinya demi pemelihara getol tuntunan Buddha bermakna segenap warsa final, serdadu pernah menurunkan amal memakai sosial ke wihara serta sistem Buddha, terhitung lingkaran yg anggotanya dituduh menunaikan penghasutan. Ketika Jenderal That Pon tertimpa teguran atas mendermakan USD $ 20.000 untuk Buddha Dhamma Prahita Foundation (pengganti MaBaTha), doski merawat pribadi memakai mengekspresikan bahwa doski sekadar menyempal untuk karet pertapa mendapatkan perbuatan baik, menyiratkan bahwa doski bekerja bermakna keinginan tuntunan Buddha. Tindakan seroman itu mencitrakan gendongan berselindung serdadu mendapatkan karet pertapa revolusioner ini serta kekerabatan simbiosis mereka.

Kesulitan tempo ini

Tuntutan yg berdampingan mendapatkan meredakan fokus pencaharian penghuni Burma memakai menghentikan kekejaman, walakin serupa mendapatkan membela kredo Buddha berkenaan risiko Islam yg dirasakan memakai membawa serdadu, mendatangi atas skrip jawaban yg bertentangan pada bermakna sangha tempo ini. Dalam pengambilalihan kekuasaan belum lama, perpisahan pada bermakna sangha visibel makin sahih bermula sebelumnya. Pada 17 Maret, Komite Sangha Maha Nayaka (MaHaNa) menghembuskan maklumat yg menulahi kekejaman serdadu sepanjang penentangan, menegaskan keretakan renggangan serdadu serta jasmani yg ditunjuk penguasa mendapatkan memperhatikan sangha. Di segi asing, karet pertapa penyokong serdadu dilaporkan menghabiskan ketapel mendapatkan menubruk pengunjuk mengenyam anti-kudeta atas 10 Maret. Secara swasembada, karet pertapa pada semesta Myanmar serupa pernah menghunus aktivitas mendapatkan turun tangan serta mencegah pertumpahan keluarga memakai berkolusi bermakna penentangan serta menyediakan ciri.

Dengan pembenaran serdadu bahwa kurangnya gendongan bermula karet pertapa becus menaruh makna mereka, suruhan anti-kudeta yg makin tajam bermula karet pertapa Burma sedang berpotensi melemahkan legalitas junta serdadu.

« »