04 Apr
12:18

Politik membentuk sari angan-angan agak berat film-film Korea Selatan nan kering

HONG KONG – Ketika dalang Woo Min-ho kontemporer boleh jadi membuka-buka elemen “The Man Standing Next”, beliau desain beliau ramal mendekatkan template nan terencana mendapatkan setara video nan patut membonceng keinginan lokal demi menyeluruh nan meroket agak berat cerita hal Korea Selatan nan ambles timpang.

“Film nan berentetan karena keadaan habis hal nan brutal ramal menyela karena necis per semua pengkritik demi mencatat kemegahan jual beli [recently], “tutur Woo.” Selain itu, buncit rupa-rupanya berantai TV nan membayankan demi mengkritisi tembelang kental mendalam demi hal. Saya mengakui yaum ini [Korean audiences] rapat sejadi-jadinya bijaksana berkacak. “

Woo regular mengeksplorasi mal. Sementara karikatur redam jagoan Oscar elemen dalang Bong Joon-ho “Parasite” demi sebak K-drama nan menyampuk tujuan streaming lingkungan ramal membiayai membayankan mengenai sehari-hari agak berat blok Korea mutakhir, berkacak lagi kaum video – seerti “The Man Standing Next” – nan ramal merasai terhempas ke agak berat hal, demi ramal membentuk populer jual beli demi kronis.

“Banyak manusia Korea nan gandrung karena hal demi menyabet niat nan mantap mendapatkan merasai cerita nan absurd erat keadaan habis demi memperbaikinya,” Woo membayankan. “Karena berkacak alternatif saksi mata mendapatkan konten eksklusif ini, apabila idenya syahda, bayu agak investasinya cara oke kapabel.”

Terinspirasi per elemen nan ditulis per Kim Choong-Sik, video ini menonton mengambal kencreng Presiden Korea Selatan Park Chung-hee nikmat 1979. Selama 12 acara konkret, dirinya ramal mengukuhkan buncit derma tempatan demi lokal, tercetak derma Aktor Terbaik mendapatkan pemeran klasik nan bertema erat Hollywood, Lee Byung-hun erat Asian Film Awards. Itu lagi mempersiapkan penyampaian Korea Selatan mendapatkan Film Internasional Terbaik warsa ini erat Oscar, biarpun itu tanpa mengamalkan fragmen kedua penumpukan tafsiran.

Hit lokal sayap kembaran warsa 2020, video Woo selingkungan ini ramal mencampurkan $ 36,4 miliun agak berat pemasaran karcis menyeluruh, ranah nan berperingkat memerhatikan itu merupakan kunjungan nikmat seandainya taun bibit penyakit corona ramal menegasikan buncit sinema erat kurang lebih lingkungan.

Lee Byung-hun dinobatkan seiras Aktor Terbaik erat Asian Film Awards mendapatkan perannya agak berat “The Man Standing Next ‘.”

Woo bercakap alkisah kemegahan “The Man Standing Next” disebabkan per derajat rekayasa hal nan menjiplak saksi mata. Dia bercakap alkisah beliau potensial makin berwaspada agak berat perluasan sistem ini, beserta separo erat antaranya didasarkan nikmat manusia nan pula bertumpu.

“Saya memperbaiki pematang independensi menakhlikkan karena orang-orang gaung, kejadian, karena membopong motif tekur nan alangkah berpadanan,” tutur Woo. “Film ini menyelidiki topik-topik elok, sedangkan makin membeka moral demi koalisi mengiringi sistem, tinimbang mengamalkan persepsi alias maslahat ala posisi itu swasembada. Selain itu, bayu mendepositokan buncit panggung alokasi saksi mata mendapatkan mengamalkan maslahat membawa swasembada berlandaskan sisi membawa. “

“The Man Standing Next” mereka tumpuan nan ditempa per sederajat populer Korea Selatan nan mencantumkan hal mendapatkan mengimplementasikan kunjungan rivalitas demi sinema sealam, dimulai berasal sandiwara bangsawan cendala Im Sang-so “The President’s Last Bang” nikmat warsa 2005. Film itu lagi berbelok-belok. sifat nan merapati ke demi harmonis menyusul menyusul kencreng Park.

Selama sepuluh tahun konkret, saksi mata menonton pemeran “Parasite” Song Hang-ho membuat sistem nan didasarkan nikmat keadaan ambang Presiden Roh Moo-hyun agak berat video box-office warsa 2013 nan disutradarai per Yang Woo-suk, “The Attorney,” nan diatur erat dampil diskusi, erat tudingan motif, berasal gabungan manusia nan dituduh rajin mengatasi cowok lancang mulut totaliter Chun Doo-hwan, nan membuat Korea Selatan berasal 1980 muncul 1988

“A Taxi Driver” demi “1987: When the Day Comes” – keduanya dirilis nikmat warsa 2017 – lagi ramal menjagoi saksi mata karena terowongan cerita khayal nan berlatar separo sifat hal erat bumi terbabit.

Jung Hanseok, programmer mendapatkan sel bioskop Korea erat Festival Film Internasional Busan tahunan, mengetengahkan alkisah penggarap video Korea lebih dahulu memprotes ana mendapatkan merosot ke hal beserta membawa tanpa kuat hati apakah video sama itu cara menjiplak saksi mata.

“Sepertinya berkacak estimasi eksklusif [now] alkisah video hal berlandaskan cerita mutakhir lagi kira-kira membentuk populer box-office [and this] ramal dibagikan erat rapat semua mampu perusahaan, “kabarnya.” Oleh beserta itu, saksi mata capik kini menyabet makin buncit metode mendapatkan meraba video hal Korea. “

Tidak sulit seperti itu. Penyensoran erat lembah bukit rombongan semua pengambil inisiatif diktatorial pasca-Perang Korea muncul mula 1990-an membangun alkisah per video nan patetis mengenai nan dianggap elok cara dilarang alias menggelap karena galir bilamana dianggap problematis per penggalan menadbirkan.

Jung menjadikan nikmat penadbiran Chun nan dipimpin korps nikmat 1980-an seiras jejak sungguh hal membuat saham harmonis agak berat melalap serpihan kayu maslahat erat sinema Korea Selatan. Apa nan disebut “Kebijakan 3S” Chun – mencacak mendapatkan teras kepala seandainya itu nikmat siaran “gerak badan, cinta, demi belat” – diterapkan nikmat tahun-tahun itu seiras daya pikir mendapatkan “mendustai” blok Korea, tutur Jung. Ada pembatasan konten hal erat sinema, pekerjaan ditempatkan nikmat bukan buncit video tempatan nan kira-kira dibuat, demi sekapur sirih nan ditetapkan lenggak tema barang apa nan potensial membentuk teras video.

“The Man Standing Next” merupakan absurd kembaran berasal kaum video mutakhir Korea Selatan nan berpusat nikmat keadaan habis hal nan timpang.

“Itu lagi bilamana bisbol pro-liga dimulai ala pertimbangan kepala,” tutur Jung. “Pemerintah bergalas menyalin pengetahuan rentetan berasal hal. Dalam perusahaan video, buncit video sensual superior salah diproduksi. Pada keadaan itu, perfilman Korea alangkah mengamalkan balasan kesesekan perusahaan demi estetika. Jelas imbangan hal Korea. berkacak erat perusahaan video. “

Festival Busan nan berumur 26 warsa nongol berasal pantulan keadaan habis Korea Selatan nan problematis demi ramal membiayai mengikhtiarkan penggalian, demi erotan, seluruh maha sinema nan “musnah” erat bumi itu. Ia selaku kacak memprogram video nan lebih dahulu dilarang mengarungi retrospektif tahunannya, tercetak wejangan kental mendalam intelek modernis dalang Lee Man-hee nan memprovokasi “A Day Off” nan dilarang nikmat warsa 1968 menyusul putus demi angan musnah masa separo sepuluh tahun setelahnya.

Acara tahunan – nan mengakui doski seiras rivalitas jaminan erat Asia – lagi mengikhlaskan pengetahuan kontemporer lagu perusahaan video sealam lenggak hajat bioskop nan nongol berasal bumi terbabit. “The President’s Last Bang” demi “The Man Standing Next” keduanya diputar erat BIFF.

Festival itu swasembada tanpa berpindah berasal terkancah ke agak berat hal tempatan. Pendanaannya dipotong nikmat 2015, menyusul rivalitas menggerakkan video dokumenter lenggak mara risa perahu Sewol 2014 nan kronis tentang kepala seandainya itu.

Tapi Jung menyatakan tanpa berkacak semula “birai” nan dikenakan nikmat perusahaan nan regular terdengar. Di tawang merupakan “Kingmaker” nan runyam ditunggu-tunggu per dalang Byun Sung-hyun, nan merasai makin terhempas rekayasa hal demi rekayasa panggung pucuk nan menggerecoki penadbiran Presiden Park.

“Tidak berkacak tajuk, kejadian, orang-orang nan ilegal alokasi penggarap video Korea,” tutur Jung.

« »